アンジェル ● Angel ● 邓丽佳 (angelika20) wrote in join_fl,
アンジェル ● Angel ● 邓丽佳
angelika20
join_fl

The Date

Title: The Date
Author: Angel - angelika20
Pairing: Yaotome Hikaru x Hirosaki Yue (OC - mochiolenza)
Rating: PG-13
Genre: failed fluff, romance.
Theme: Yaoi / Non-Yaoi
Discl.: None of them is mine.
Warning: No warn. Just safe.
Summary: Ketika kencan itu hampir gagal... gadis itu tersedot ke dalam satu pusaran kenyataan sederhana tentang kekasihnya—terhadap dia.
A/N: Salahkan saya krn saya main RP ttg sihir-sihir gitu. Salahkan saya krn saya online sampe malem gini. Salahkan saya krn saya ngerasa jahat belom pernah bikin fanfic ttg Hikaru. JANG JANG!!! Jadilah fanfic ini *swt* Silahkan baca, semoga suka :)



Demi apapun—Yue benci menunggu!

Sedari tadi gadis berambut panjang sepundak itu meruntuk terus. Terus-terusan, sejak dua puluh menit lalu, waktu yang ia janjikan untuk bertemu dengan pacarnya, Hikaru. Ya, Yaotome Hikaru, si idol itu.

Harusnya mereka sudah bertemu dua puluh menit lalu, jam 6.15 tepat. Mereka akan berkencan. Berkencan, bung! Rasanya tangan Yue ingin sekali menonjok hidung pacarnya itu sampai berdarah. Tidak! Yue tidak peduli. Biar hancur sekalian wajahnya. Biar tidak ada lagi yang menyukainya. Biar si tua Kitagawa itu mendepaknya dari agensi. Biar saja!

Menggerutu dan terus menggerutu.

Bibir bawahnya sampai maju akibat dua puluh menit menggerutu.

Salahnya Hikaru! Ditelepon tidak bisa. Dikirimi mail tidak balas. Kalau saja Yue sedang dikamarnya, ia sudah membanting handphone-nya ke tempat tidur. Keki! Kesal! Gondok! ERGH—

drrrt… drrrt…

Keitai?

Ah! Keitai-ku! Keitai-ku bergetar! Hikaru-kah?

Cepat-cepat Yue tarik keitai putihnya dari tas kecil biru selempang yang tergantung di pundaknya. Mengibas rambut panjangnya sedikit—tsaah…

Yaotome Hikaru!

Klik.

“Hikaruuuuuuu!!!” seru Yue dengan emosi membludak di hatinya.

“Yue-chaaaaaaaaannn!!!” balas Hikaru diseberang sana.

Wajah Yue memerah—semerah tomat, apel, kepiting, ah apapun!—karena ingin marah. Langsung didepan gigi gingsul Hikaru.

“Kau masih disana?” tanya Hikaru dengan nada yang berubah seketika.

“Sejak dua puluh lima menit yang lalu. Kau dimana saja hah?!” Suara Yue meninggi. Emosinya meluap. Padahal sebenarnya dia ingin menyimpan saja emosi itu nanti, supaya keluar tepat di depan wajah cowok itu. Tapi, ah… tidak bisa. Yue sudah tidak tahan!

“Hai. Gomen. Gomen. Lima menit lagi aku sampai. Janji. Tunggu aku ya.”

Klik. Terputus.

Bagus Hikaru, pikir Yue kesal.

Tidak bisa menunggu lagi. Barang lima menit pun tidak bisa. Cukup, tidak ada kompromi bagi Yue. Telepon tadi, resmi menjadi penanda Yue angkat kaki dari depan Taman Sakura. Yue melangkahkan kaki keluar dari taman itu.

Biar. Biar saja Hikaru kebingungan mencarinya, karena Yue sudah pergi dari situ. Biar saja Hikaru kerepotan menelponnya, karena Yue tidak akan mengangkat telepon Hikaru lagi untuk hari itu. Biar saja Hikaru marah-marah, karena bagi Yue cowok itulah yang salah duluan. Biar. Biar saja.

Ini sudah kali keenam Hikaru pakai jam karetnya. Dan cowok itu sudah tahu kalau Yue paling tidak senang dengan keterlambatan, apapun alasannya. Itu cukup menjelaskan kan? Dan ini yang ketujuh. Tidak ada lagi janji-janji.

Walaupun nanti Hikaru membawakannya satu pot bunga matahari-pun, hati Yue tidak akan luluh. Tidak pengaruh. Huh. Bibir Yue manyun, lagi.

BLAM!

Entah sihir apa yang terjadi disana, depan Yue Hirosaki. Tiba-tiba di depan matanya ada pusaran angin tebal berwarna hitam, meyedotnya masuk ke dalam. Kemudian semuanya—gelap.

*

Siapa sangka, pemandangan yang kini ada di depan Yue adalah wajah Hikaru. Jelas, terlalu jelas malah. Bisa disentuh.

Wajah tanpa senyum. Ya, tidak ada cengirannya. Boro-boro nyengir, gingsulnya saja tidak terlihat. Hikaru tidak tersenyum, tidak juga murung. Tidak terlihat sedih, bahagia pun tidak. Matanya terpejam, bibirnya memerah, aih… hidung mancungnya.

Hikaru berdiri di hadapan Yue, tepat di depan gadis itu. Dan Yue tidak bisa bergerak!

“Aahhhh! Ada apa sih?” gerutunya sekali lagi.

Tiba-tiba tubuh Hikaru menjauh. Reflek, tangan Yue terulur untuk menahan tubuh cowok kaku itu. Eh, tapi tidak sampai.

“Hikaru…” panggil Yue sambil berbisik.

Mata itu terbuka.

“Hikaru?” panggil Yue sekali lagi.

Tapi masih tidak ada senyum disana. Hanya wajah serius Hikaru yang jarang sekali gadis itu lihat di kehidupan Hikaru sehari-hari. Cowoknya itu kan…ngocol. Tidak cocok kalau serius.

“Kau marah kepada Hikaru?”

“SANGAT!” Mata Yue membesar. Emosi. Lagi.

“Kalau begitu, kita bunuh saja dia, ya.” Senyum. Kali ini, ‘boneka’ itu tersenyum. Itu seringai bahagia Hikaru. Tepat saat mulut itu mengucapkan kata… ah! Tidak perlu penjelasan.

“EHHHH??!!!” Kali ini mata Yue membesar lebih besar.

“Kenapa? Kok kaget?” Semakin jauh. Boneka itu bergerak semakin menjauhinya. “Aku Hikaru. Kau benci padaku kan? Maka dari itu, biarlah Hikaru menghilang saja supaya kau tidak marah lagi kepadanya.”

“Ta—”

“Tapi apa? Kau sudah tidak bisa memaafkannya lagi kan?” tanya si boneka Hikaru. “Jadi buat apa bersama lagi? Kenapa tidak kau selesaikan saja kisahmu dengan Hikaru, Yue-chan?”

“Karena tidak bisa—“

“Kan tidak ada yang memaksa. Kenapa harus tidak bisa?”

Semakin jauh, Yue semakin panik. Tapi tubuhnya benar-benar tidak bisa digerakkan.

“Jangan takut, Yue-chan. Hikaru tidak akan menyalahkanmu jika nanti ia mati. Toh semua orang akan mati, kan? Lagi pula, Hikaru sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk memperoleh maaf darimu lagi. Jadi… biar saja ya. Cepat kok. Prosesnya tidak lama dan kau tidak akan terlibat sama sekali. Tenang saja, Yue-chan.”

Seperti esai, kereta api, kacang panjang. Kata-kata yang teruntai dari mulut boneka Hikaru benar-benar melelehkan airmata Yue.

“Lho, kenapa Yue-chan menangis? Katanya marah…”

“TAPI JANGAN BICARA SEPERTI ITU!” Gadis itu berteriak. “Biarpun aku marah kepada Hikaru, tetapi aku tetap menyayanginya. Memang salah kalau aku marah karena Hikaru selalu terlambat setiap kita ingin berkencan? Salah kalau aku pergi dari tempat janjian kita karena aku capek menunggu? Salah kalau aku tidak sabar menanti saat-saat kita bisa berkencan seperti orang normal lainnya? Aku hanya… tidak sabar untuk bertemu Hikaru.”

Boneka itu berhenti. “Memang Yue-chan tidak berpikir kalau Hikaru juga tidak sabar untuk bertemu denganmu? Apa Yue-chan tahu kalau Hikaru sering kali hampir tertabrak mobil di jalan ketika ingin menyeberang untuk bertemu denganmu? Apa Yue-chan tahu kalau Hikaru sering sekali melewatkan makan malamnya hanya untuk menyempatkan diri makan malam dengan Yue-chan? Itu pun kalau jadi. Dan apa Yue-chan sadar kalau setiap kali Yue-chan tertidur di pundak Hikaru, Hikaru yang selalu memelukmu, mencium dahimu, menggendongmu sampai ke rumah, sekalipun saat kalian kencan jauh dari rumahmu? Pernahkah?”

Tangan Yue menutupi wajahnya. Menangis disana.

Memang. Yue paling sering tertidur saat berkencan. Lihatlah. Padahal pasti Hikaru yang paling lelah. Kegiatan satu hari dalam seminggu selalu full. Tetapi cowok itu selalu menyempatkan diri untuk tetap bertemu gadisnya, malam mingguan. Di tengah lelahnya, selalu Hikaru paksakan. Dengan risiko kecerobohannya yang sering mengakibatkan dia hampir tertabrak mobil di jalan.

“Tunggulah dia… sebentar lagi.”

Sebuah tangan, hangat, menyentuh pundak Yue.

“Aku akan bilang ke Hikaru untuk berjalan lebih cepat.” Senyum.

BLAM!

Kembali, Yue tersedot ke satu pusaran hitam besar yang kini berada tepat di atas kepalanya.

Kemana dia akan pergi?

*

“Yue-chaaaann!!” Seseorang melambai-lambai dari kejauhan.

Dengan kaus biru langit sederhana, sebuah jaket hitam, topi hitam, dan celana jeans biru dongker. Dia disana berjalan setengah berlari ke arah tempat Yue duduk.

“Hikaru…” bisik Yue.

Gadis itu lalu bangun dan langsung mengejar Hikaru. Menangkap tubuh yang lebih tinggi dari dirinya, yang kurus dan tipis, yang tegap seperti kayu. Wajah itu, tersirat kelelahan, tetapi dia selalu tersenyum seperti tidak ada apa-apa. Kali ini Yue tahu, Hikaru lelah.

Sebuah kecupan mendarat di dahi Yue.

“Pertama kalinya sejak kita pacaran, kau mengejar aku. Segitu nggak sabarnya mau ketemu aku?” tanya Hikaru.

Cowok itu menunggu sebuah kata yang sering dilontarkan Yue. Kata itu hanya terdiri dari dua huruf, merupakan kependekan dari ‘percaya diri’.

“Un!” Yue mengangguk.

“Ehh?!!” Hikaru malah kaget. “Kau tidak sakit kan, Sayang?”

Yue menggeleng. Yang membuat Hikaru heran, tangan gadis ini masih belum melepaskan pelukannya. Hikaru malah tertawa pelan, lalu balas memeluk gadis itu, erat. Lebih erat dari pelukan Yue.

“Hari ini mau kemana?” tanya Hikaru masih sambil memeluk cewek itu.

“Kita makan yuk! Pasti Hikaru belum makan malam kan?” tebak Yue.

“Lho? Tumben ngajak makan. Biasanya jalan-jalan aja.” Hikaru tersenyum.

“Tapi traktir aku!” seru Yue. “Ganti rugi karena kau membuatku menunggu setengah jam disini.”

“Iya iya.”

“Aku sayang Hikaru…” bisik gadis itu lembut.

Justru Hikaru yang terkejut. Selama mereka pacaran, belum pernah sekalipun Yue memeluknya sedemikian erat lalu berkata seperti itu dalam nada yang—err… menurut Hikaru sih, tidak biasa.

Ketika angin malam berhembus, Hikaru memberikan jaketnya ke tubuh Yue. Sedikit lebih rapat, Yue menempelkan tubuhnya ke tubuh Hikaru.

“Maaf ya aku terlambat,” ujar Hikaru.

Yue malah menggeleng. “Nggak apa-apa. Yang penting aku bisa lihat Hikaru selamat sampai bertemu aku, aku sudah senang. Lain kali, kasih tau aku ya kalau mau terlambat, jadi aku sudah siap-siap duluan.”

“Mau siap-siap apa?” Hikaru mencubit pipi pacarnya. “Dasar gila!”

Mereka berdua malah tertawa.

Ya, Yue akhirnya mengerti kalau yang penting itu bukan waktu, tetapi jiwa. Waktu pasti akan datang. Tunggu saja, nanti dia akan menyapa. Seperti tadi, kalian lihat kan siapa yang menyapa duluan? Hikaru, tepat sekali. Karena dia pasti akan datang. Harusnya Yue sadari itu. Jika Hikaru bilang ia akan datang, dia pasti akan datang. Dia sudah berjanji. Dan pada prinsipnya, laki-laki tidak boleh ingkar janji. Ya, kan?

***
THE END

IOWERIOANV;PWIEHTIOAWYEAIOWEHTJAWIOWIERWA;H
Ngaco. Ya, saya tau.
Maka dari itu saya butuh feedback dan komen-komen.

Feedbacks & comments are TAKAKI HIKARU!
Thank you for reading :D
Tags: author: angelika20, fandom: hey!say!jump, genre: fluff, genre: romance, pairing: yaotome hikaru/oc, rating: pg-13, theme: non-yaoi, type: oneshot
  • Post a new comment

    Error

    Anonymous comments are disabled in this journal

    default userpic

    Your IP address will be recorded 

  • 5 comments