Muti_cHan (mutimutimut) wrote in join_fl,
Muti_cHan
mutimutimut
join_fl

Love So Sweet

Title: Love So Sweet
Author: Muti a.k.a mutimutimut 
Pairing: Ninomiya Kazunari X Kaori Michiyu (OC)
Rating: G
Genre:  Romance (gomen, sebenernya muti bingung FF ini udah qualified buat masuk angst atau belum)
Theme: Non Yaoi
Disclaimer: Yup. I'm indeed a self-proclaimed Nino's wife. He got me, but I didn't own him.
Warning: None. Just don't bash either the OC or Johnny Kitagawa, please.
Summary: Nino dihadapkan antara dua pilihan, kekasih yang ia sayangi atau pekerjaan dan rekannya dalam Arashi. Hanya sesaat sebelum ia menyatakan pilihannya... Takdir telah menetapkannya. Okay, this is such a strange summary >.<

p.s : Ini ff pertama sekaligus debut muti di segala dunia per-fandom-an, dibuat pada tahun 2007. Sumpah masih unbetaed banget, dan bahasanya masih pas-pasan. Minta komennya yah :D

Mod-tachi, gomen muti ngepos ff yg belom ada tagnya... bikinin tag author ama tag pairing nino dong.... onegai *bows*

- - -

"Mi..."

Tluk!

Ia menjatuhkan pulpennya di meja. Berusaha keras untuk tidak menangis, tapi air matanya sudah terlanjur meleleh di pipinya. Michiyu, gadis yang selama ini ia sayangi dengan sepenuh hati, kekasih hatinya yang selama ini mencintainya dengan setulus hati, beberapa minggu yang lalu harus ia lepaskan begitu saja. Hatinya hancur tak terperi. Sakit sekali rasanya, ketika ia harus mengakhiri hubungannya dengan Michiyu hanya karena pekerjaannya sebagai entertainer sekaligus penyanyi terkenal.


Selang beberapa minggu yang lalu...

Nino membuka pintu ruang ganti. Baru saja konser Arashi di Yokohama selesai.

Cklek!

Betapa kagetnya ia melihat sesosok yang sangat ia kenal, kerinduan mengaliri sekujur tubuhnya.

"Mii!" seru Nino langsung memeluknya erat,"kau menyusulku sampai ke sini?"
"Iya," jawab gadis itu seraya tersenyum, "konsermu hebat! Aku sampai bengong mendengarmu menyanyi, apalagi yang solo. Konseki... Suaramu mer..."
"Sudah, cukup," potong Nino,"jangan bicara lagi."

Cup...! Nino memeluknya lebih erat lagi dan mengecup bibirnya. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat pipi Michiyu bersemu merah. Michiyu manis sekali...

"Kau tidak tahu? Aku amat sangat merindukanmu...," ujar Nino tetap memeluk Michiyu dengan erat. Seakan-akan Michiyu akan lepas jika ia tak memeluknya erat dan lebih erat lagi. "Maaf, gara-gara pekerjaanku kita jadi tak bisa sering bertemu. Apalagi sejak banyak konser di luar Tokyo."

"Aku juga kangen. Kangen sekali," jawab Michiyu penuh sayang,"tapi tenang saja. Aku baik-baik saja. Lagipula kita sudah janji bertemu saat tahun baru kan?"

"Ya..." balas Nino penuh penyesalan,"maaf, aku jadi lebih mementingkan pekerjaan daripada hubungan kita. Maaf..."

"Tidak apa-apa," jawab Michiyu lagi,"Nino yang seperti itu yang sangat kusukai."

Kali ini Nino yang tersipu.

"Aku janji, begitu aku pulang ke Tokyo, aku akan langsung menemuimu. Aku akan membawamu jalan-jalan. Aku janji," ujar Nino. Nino menatap mata kekasihnya bersungguh-sungguh. Menatap kedua bola mata yang jernih dan bersinar seperti kelereng yang sekarang berada tepat di depannya.

Setelah beberapa saat, gadis itu mengangguk. Senyuman yang sangat manis terkembang di wajahnya yang mungil.

"Iya, akan kutunggu sampai saat itu."

Brak! Tiba-tiba pintu kamar tempat Nino dan Michiyu berada didobrak oleh seseorang.

"Nino, me harus bicara dengan you."
"Johnny-san?" gumam Nino kaget plus heran. Tapi ia menurut perintah sang bos agensi Johnny's Entertainment itu, agensi di mana ia bekerja. Ia berpisah sebentar dari Michiyu, menyingkir mengikuti si bos.

"Nino, bukankah me sudah bilang dari dulu?" kata om Johnny memulai pembicaraan.

Nino bingung, ingat-ingat lupa.

"Jangan bilang you tidak ingat."

Nino mengingat-ingat lagi. Baru saat itulah ia ingat sesuatu. Perasaannya tidak enak. Pikirannya mulai campur aduk.

"Nino, aturan kita adalah, tidak boleh berpacaran. Tidak boleh memiliki kekasih. Dulu me pernah menyuruh you putus dengan cewek itu. Tapi ternyata you diam-diam masih terus berhubungan dengan dia. Kali ini me tidak bisa pakai cara halus lagi. Kalian harus putus."

Degh! Serasa ada paku yang menancap di hatinya, perih... Kekuatannya serasa tak ada lagi. Ya, dulu om Johnny pernah memergokinya sedang berpacaran dengan Michiyu. Waktu itu om Johnny langsung menyuruhnya putus dengan Michiyu. Tapi Nino tak sanggup untuk mengatakannya pada Michiyu. Akhirnya setelah itu dia berpacaran dengan Michiyu secara diam-diam. Tapi sekarang? Ia dipergoki lagi. Apa yang bisa ia lakukan? Om Johnny benar-benar memaksa sekarang.

Nino sudah tahu bagaimana sifat bosnya kalau sudah marah. Ia bisa melakukan segala cara untuk menyingkirkan apa yang tidak ia sukai. Sama seperti kasus kouhai-nya, Kusano dan Uchi, yang diskors ketat dari NEWS karena minum di bawah umur. Padahal dua anak ini memiliki memiliki potensi, apalagi Kusano yang dulunya selalu menjadi tokoh utama di tiap single dan memiliki suara serta kemampuan menari yang sangat bagus *digebukin seforum*.

Nino berjalan dengan lemas, diikuti om Johnny di belakangnya.

"Nino, kenapa?" tanya Michiyu melihat Nino yang pucat.

Nino tak sanggup mengeluarkan suara. Ia meraih pundak Michiyu lalu memegangi kedua bahunya, menopang tubuhnya sendiri. Lalu Nino mengangkat kepalanya, memandangi mata gadis polos di depannya, dan berkata.

"...Mii, kita harus putus. Sekarang."

Dari ekor matanya saja, Nino dapat melihat air muka Michiyu yang menjadi pucat.

"Nino... Bercanda kan? Apaan ini... Gak lucu tahu..." balasnya dengan senyum kecut. Michiyu benar-benar tak percaya.

"Aku nggak main-main, Mii."

Degh! Kali ini Michiyu benar-benar pucat. Badannya menggigil ketakutan sekaligus tak percaya.

"Tapi... kenapa? Kenapa mendadak seperti ini?" tanyanya gundah,"Nino, jelaskan!"

"Aku..."

"Kalian harus putus karena di perusahaan I ada aturan bahwa tidak boleh ada artis yang berpacaran," potong si bos JE ini.

"Hah?" gumam Mii tak percaya,"jadi...."

"Mii, maafkan aku. Sumpah, aku tak rela berpisah denganmu, tapi..."

Michiyu sudah terlalu shock untuk menanggapi. Yang bisa dilihat Nino sekarang hanya mata kelerengnya yang mulai berembun dengan air mata.

Tidak... Yang paling tidak ingin ia lihat adalah mata kekasihnya yang sedang menangis di hadapannya.

Tes! Air mata Michiyu mengalir di pipi, membasahi bajunya yang manis berwarna pink, khusus ia siapkan hanya untuk melihat konser kekasihnya tersayang.

Nino tak sanggup melihat wajahnya Michiyu yang sekarang penuh air mata, jadi ia memeluknya. Yang ia pikirkan sekarang hanya terus memeluknya, tak ingin melepaskannya. Ia tak ingin berpisah dengannya. Ia tak ingin kehilangan dirinya...

Cup...! Nino mencium Michiyu untuk yang terakhir kali. Cukup lama, dan lalu ia berbisik.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu..."

Air mata Michiyu pun semakin deras.


"Mii, dengar," Nino berbisik kecil kepada Mii, agar tak terdengar oleh siapapun selain Mii,"aku akan tetap menemuimu ketika aku sampai di Tokyo, dan pada saat itu kau harus tetap menungguku. Janji?"

Michiyu mengangguk kecil tapi tetap menangis. Ia mencoba tersenyum, tapi rasanya sakit sekali.

"Baiklah. Aku akan pulang, dan menunggumu. Kau harus segera menemuiku ya."

Michiyu langsung melepaskan diri dari Nino dan pergi meninggalkan tempat itu. Sementara itu, Nino di sana berusaha keras menenangkan diri.

"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu...."

---

Malamnya, kelima personel Arashi beristirahat di sebuah hotel. Nino mendapat kamar yang sama dengan Jun.

Nino masih terpukul dan menyendiri di pojok tempat tidur, sedangkan Jun menggonta-ganti channel TV dengan malas. Malam sudah cukup larut, sehingga siaran televisi yang ada hanyalah berita tengah malam saja. Saat itulah, Jun menemukan berita yang cukup mengejutkan.
"Nino, lihat ini! Cepat! Penting!" seru Jun.

Nino mendatangi Jun dengan malas-malasan. Ia sudah tak peduli dengan sekitarnya.

"Dengarkan!"

"Sebuah kereta dengan nomor keberangkatan XXX dari stasiun XXX menuju stasiun XXX, Tokyo, mengalami kecelakaan di XXX. Penyebabnya sampai sekarang masih belum diketahui secara jelas. Dari proses evakuasi yang dilakukan sejak sejam yang lalu, hampir dapat dipastikan semua penumpangnya tewas...."

"Itu... kereta yang dinaiki Mii!"


Nino menutup mulutnya dengan kedua tangan. Lalu ia langsung mencari telepon genggamnya, mencari nama Michiyu dan menghubunginya berkali-kali. Tapi selalu tak diangkat.

"Bohong... Bohong! Ini semua bohongan kan??? Main-main kan???" Nino tak percaya. Ia terus menghubungi Michiyu, tapi hasilnya selalu sama, tak diangkat. Ia melihat ke layar televisi lagi...

Dan ia makin tak percaya. Ada tubuh seorang gadis yang diangkat oleh para tim penyelamat itu. Walaupun wajahnya hancur terbakar dan penuh darah, Nino masih bisa mengenalinya. Itu Michiyu. Michiyu yang sangat ia kenal. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang lembut, rambutnya yang terurai halus... Lebih jelas lagi, tubuh tak bernyawa itu masih memakai baju terusan pink yang sama dengan yang dipakai Michiyu tadi sore.

Nino melempar telepon genggamnya ke tempat tidur. Tak percaya apa yang barusan dilihatnya. Terlalu shock melihat kenyataan, ia jatuh terduduk di lantai. Matanya kini tak bisa lagi jelas melihat ke layar televisi, karena sudah dipenuhi dengan air mata. Bagaimana mungkin ia tidak shock? Melihat mayat kekasihnya sendiri yang bahkan baru ia temui sesaat yang lalu dalam keadaan sehat dan bahagia?

"Bohong... Mii!!!!!!" teriaknya sekuat tenaga,"kamu kan sudah janji mau menungguku di sana... Kenapa kamu tidak menepati janjimu? Kenapa kamu pergi secepat ini? Mii..."

Jun mencoba menenangkan temannya yang satu itu, tapi luka hati Nino terlalu dalam, sampai-sampai Jun tak mampu menyelam ke dalamnya. Semalaman itu Nino hanya menangis, memegangi telepon genggamnya, mengharapkan sesuatu yang ia tahu tak mungkin: Michiyu akan meneleponnya, berkata bahwa ia telah sampai di Tokyo, dan ia baik-baik saja.

"Michiyu... Aku akan memberikan segalanya padamu. Aku akan menemanimu jalan-jalan selamanya. Aku akan membuang namaku dan berhenti jadi artis. Aku akan melakukan segalanya. Tapi kumohon, kembalilah padaku. Kembali menjadi Michiyu yang selalu mendukungku. Michiyu yang selalu memberikan senyum terbaiknya padaku. Michiyu yang selalu mempercayai aku. Michiyu yang ingin selalu kulindungi..."

"Aku mencintaimu, dulu, sekarang, dan selamanya..."

---*flash back end*

Nino menangis, terkenang saat-saat bersama Michiyu, dan juga saat kecelakaan itu menimpa Michiyu, kekasihnya yang sekarang telah berada jauh di sana.

Sebuah lagu ciptaannya merangkum perasaannya saat itu.

...Omoide zutto zutto wasurenai sora futari ga hanarete itemo
Konna suki na hito ni deau kisetsu nido to nai
Hikatte motto saikou no lady, kitto sotto omoi todoku
Shinjiru koto ga subete
Akenai yoru wa nai yo
Shinjiru koto ga subete
Love So Sweet...

Memori, aku tidak akan pernah melupakan langit ini walau kita berpisah
Tak akan ada lagi musim di mana aku bisa bertemu orang yang begitu aku cintai
Bersinarlah lebih, lady terbaikku,
cinta ini perlahan pasti akan menggapaimu
Percaya adalah segalanya
Takkan ada lagi malam yang gelap
Percaya adalah segalanya,
Love so sweet


- - - OWARI - - -
Tags: author: mutimutimut, fandom: arashi, genre: romance, pairing: ninomiya kazunari/oc, rating: g, theme: non-yaoi, type: oneshot
  • Post a new comment

    Error

    Anonymous comments are disabled in this journal

    default userpic

    Your IP address will be recorded 

  • 0 comments