fietha ☆ (fietha) wrote in join_fl,
fietha ☆
fietha
join_fl

Johnny's Hime Competition ~Part 3~

Title: Johnny's Hime Competition
Author: fietha
Pairing: NONE
Rating: G
Theme: Non Yaoi
Genre: Comedy
Disclaimer: They're all belong to JE, their parents, and themself. I don't own anything!
Summary: Suatu hari JE mengadakan sebuah kompetisi yang berhadiah super dahsyat. Liburan ke Hawaii dan Bali selama 2 minggu. Dan tentunya, kompetisi bernama "Johnny's Hime Competition" ini merupakan suatu kompetisi dimana cowo - cowo cantik setiap grup di JE yang mengikutinya!

Pevious chapter:
Chapter 1
Chapter 2
 
____________________________________________________________

Chapter 3
Sambel Terasi Competition


“APAAN TUH SAMBEL TERASI?!?!?!?!” Teriak semua kontestan serempak.
“Sambal adalah saus yang disiapkan dari cabai yang dihancurkan sehingga keluar kandungan airnya dan biasanya ditambah bahan-bahan lain seperti garam, cuka dan terasi,” jelas Toma membaca pada sebuah script yang diberikan padanya.
“terus kalo sambel terasi apaan?” tanya salah satu kontestan –sapa aja boleh.
“Ya sambelnya dikasi terasi. Makanya namanya sambel terasi!” jelas Toma lagi.
“Terasi teh naon?” tanya Nino tiba – tiba pake bahasa sunda.
“Terasi adalah bumbu masak yang dibuat dari ikan dan atau udang renik yang difermentasikan, berbentuk seperti pasta dan berwarna hitam-coklat, kadang ditambah dengan bahan pewarna sehingga menjadi kemerahan. Terasi memiliki bau yang tajam dan biasanya digunakan untuk membuat sambal terasi, tapi juga ditemukan dalam berbagai resep tradisional Indonesia,” jelas Toma lagi.
“Oh…” jawab semua kontestan hanya mengangguk – angguk.
“Oh iya, semua penjelasan ini credit to Wikipedia. Sekian,” kata Toma lagi.
“GUBRAK!” kata semuanya serempak.

“Yaudah! Kita mule aja sekarang kompetisinya. Okay, Follow me!” kata Toma mengayunkan tangannya dan mengajak mereka ke tempat dimana kompetisi akan diadakan.


***


Di sebuah Lapangan Bola….

“OKE!!! SEKARANG, MARILAH KITA MULAI KOMPETISI PERTAMA!!!” kata Toma bersemangat
“Anoo… mau nanya! Kenapa kompetisinya di lapangan?” tanya Chii penasaran.
“Yah, kalo di tempat yang tadi kan sempit! Kalo disini kan luas, siapa aja bisa nonton!” kata Toma lagi.
“Iya. Semua orang bisa nonton ketidakmampuan kita semua bikin sambel terasi. Niat mempermalukan kita ya?” kata Inoo ketus.
“Mas, mas… mau mundur? Mau diajak naik roller coaster?” kata Toma menggoda.
“Eh, ngga. Gw tarik kata – kata gw tadi,” kata Inoo ketakutan dan menelan ludahnya dalam – dalam.

“Okelah. Dalam membuat sambal terasi caranya gampang. Bahan pertama yang harus digunakan –masing – masing udah tersedia di meja kalian–, yaitu; cabai merah besar, cabai rawit, garam, gula, tomat, bawang putih, dan jangan lupa yang paling penting, terasi!”
*ketauan si author suka bikin sambel terasi*

“Anoooo~” kata Ueda tiba – tiba mengacungkan tangannya keatas.
“Nanda yo, Ueda-san?” tanya Toma pada Ueda.
“Yang namanya terasi tuh yang mana sih?” tanya Nino penasaran.
“Yang baunya amis – amis warnanya coklat…” jawab Toma.

Lantas, kesemua kontestan langsung mencium – ciumi satu persatu bahan – bahan yang tersedia di meja mereka dan mengendus – endus seperti anjing.
“HOIII!!! KAGAK USA AMPE DIENDUS – ENDUS GITU NAPA! MULE AJA YUK MULE! SEMUANYA BERSIAP DI MEJA MASING – MASING YE!” kata Toma dengan nada agak kesal. Semuanya pun langsung bergegas menuju posisi meja mereka masing – masing.
Sementara para member yang tidak mengikuti kompetisi tetap setia mendukung wakil – wakil mereka. Dan tentunya kehadiran para fans yang bejibun di sekeliling lapangan ikut menyemangati mereka.

“Udah udah! Ayo dimulai lombanya! READY, GO!”

Dan letusan pistol angin pun dibunyikan. Lomba membuat sambel terasi pun dimulai. Satu persatu peserta mulai mengambil cobek mereka masing – masing. Namun kebanyakan Dari mereka belum memulai membuat, melainkan mengamati dengan seksama secarik kertas bertuliskan resep sambel terasi yang ada di hadapan mereka. Namun beberapa mulai memasukkan bahan – bahan yang dibutuhkan ke cobek tersebut.


***


Chinen Yuri belum memulai memasak. Ia masih dengan seksama mengamati sebuah pisau yang ada di tangannya dengan seksama, memperhatikan ketajaman benda tersebut, dengan tatapan ingin membunuh orang. Sementara member Hey! Say! 7 yang lainnya, sebagai pendukung Chinen, mulai mengalami bulu kuduk berdiri secara menggila, membuat mereka ngeri sendiri melihat Chinen seperti itu.

BRAK!

Cabai yang ada di talenan yang ada di hadapan Chinen pun di potong dengan paksa, seperti memotong daging.

“Tajam,” kata Chinen pelan. Member Hey! Say! 7 lainnya semakin ngeri melihat kelakuan Chinen.

“Err—kita dukung Inoo-kun aja yuk! Serem ih liat Chii!” kata Yuto dengan suara ketakutan pada ketiga member lainnya. Seperti mendengar, Chinen lantas menatap mereka tajam dan kembali menatap pisau dapur yang ada di tangannya dengan tatapan mengerikan.

“Err—kagak usah aja yuk. Nanti kita malah jadi daging kurbannya si Chii. Belum Idul Adha aja kok udah jadi korban kita,” kata Yamada ketakutan. Mereka pun memilih tetap duduk di kursi mereka sambil berpegangan tangan dengan tubuh bergetar hebat—berdoa agar Chii tidak menjadikan mereka semua santapan lezat hari itu.

***


Sebelah Chinen, berdiri seorang Inoo Kei yang masih lengkap dengan kimononya—yang kini ditambah dengan celemek putih bunga – bunga merah muda—dan sebuah kacamata minus bertengger di matanya. Tangannya dengan serius memegang kertas resep tersebut, matanya tak lepas dari resep tersebut.

“Rumus apa yang musti kugunakan untuk membuat sambel terasi ini ya? x2 + y3 = 1234? Atau integral sin2 x3 + cos2 x5 ya? Hmm… apa bukan itu ya? Hmm….” kata Inoo sedari tadi sibuk berpikir.

Sesekali ia menggoreskan huruf - huruf dan angka – angka di sebuah kertas. Sesekali ia mencoretnya dan membuatnya ulang.

“Err—bukan menggunakan rumus ini sepertinya. Hmm—ini juga bukan. Formula apa yang harus kugunakan untuk membuat sambel terasi ini ya? Hmm…”

Sementara Inoo berpikir keras dan belum sedikitpun menggerakkan tangannya membuat sebuah sambel terasi, kubu BEST kini berwajah muram durja melihat kelakuan teman yang didukungnya tersebut dan merasa pesimis.

“Duh, gini dah punya temen kelewat jenius. Pesimis deh jadinya lama – lama. Fuuh…” kata Yabu mewakili perasaan member lainnya juga.


***

Lain halnya dengan Tegoshi Yuya. Sedari tadi, ia sudah memulai memasak sambel terasinya. Walaupun, cara memasaknya adalah benar – benar SALAH! Entah setan mana yang merasukinya, ia memasukkan cabai, tomat dan bahan lainnya ke panic berisi air panas di tambah dengan beberapa bahan yang sama sekali tidak ada dalam resep seperti pete, jengkol, nanas, dan berbagai macam buah – buahan ke panic tersebut.

“Hmm… eh? Bahannya bukannya dimasukin panci ya? Harusnya dimasukin cobek ya? Yang namanya cobek yang mana sih ya?” kata Tegoshi dengan wajah bodohnya sambil menoleh ke kiri dan kanan. Ia pun akhirnya menemukan sesuatu yang bernama cobek, lalu menyaring bahan – bahan yang dimasukkan ke panci tadi ke cobek tersebut.

Ia pun mulai mengulek – ulek sambel nan hancur tersebut sambil melakukan suatu gaya yang ajaib. Sesekali ia melemparkan wink – winknya ke arah fans – fans yang menonton mereka—plus sedikit gaya menggoya nan ero lainnya—membuat para penonton tersebut berteriak dengan hebohnya.

Lama – lama ia menambah gerakan lainnya dalam mengulek sambal tersebut. Bergoyang dombret ala Inul Daratista dan juga goyang gergaji ala Dewi Persis plus goyang patah – patah ala Annisa Bahar yang kesemuanya itu dipelajarinya dari DVD Dangdut yang dibelinya saat mengunjungi Indonesia beberapa waktu lalu. Sementara personil NEWS yang lain, sebagai pendukung Tegoshi, menatapnya dengan tatapan illfeel.

“Eh, kenal dia ngga sih?” kata Koyama sambil menunjuk ke arah Tegoshi.
“He? Siapa sih? Ngga kenal aku,” kata Shige dengan wajah sangat Illfeelnya.
“Aku ngga mau ah punya teman seperti orang itu! Memalukan bangsa dan negara,” kata Ryo menambahkan.

Sementara personil lain dengan malasnya memperhatikan Tegoshi, Tegoshi masih dengan setia mengulek bahan – bahan hancur tersebut sambil goyang kiri kanan dombret gergaji patah – patah, plus lemparan kedipan mata aka wink serta gaya – gaya nan sensual dan ero.


***


Ueda Tatsuya, berdiri tepat di samping Tegoshi, sedari tadi tak bersuara. Ia mengamati bahan – bahan yang ada di hadapannya tanpa sedikitpun suara keluar dari mulutnya. Sesekali ia mulai memotong cabai tomat dan yang lainnya dengan cara yang sangat aneh dan tidak rapi sama sekali. Entah kenapa, sesekali ia merelaksasikan dirinya yang mulai lelah memotong dengan melakukan tinju – tinjunya yang entah diarahkan kemana. Dan setelah itu, ia kembali melakukan potongan yang sangat berantakan tak karuan.

“Hei, hei. Kalian yakin Ueda bisa menang?” kata Nakamaru dengan wajah khawatir. Yang lainnya menggeleng.

BRUAK!

Tiba – tiba ia meninju cobekan itu dengan tangannya.

“Hmm… ternyata lebih baik mengulek menggunakan ulekan yang seharusnya,” kata Ueda pelan. Salah satu kata – kata yang baru diucapkannya selama hari itu. Bahan – bahan sambal yang ditinju Ueda mendadak berantakan, bertebaran kemana – mana. Sementara member KAT-TUN yang lain menatapnya dengan tatapan ngeri.

“Aku semakin pesimis. Sangat!” kata Kame dengan wajah ngeri.

“Sama, aku juga,” kata yang lainnya bersamaan.


***


Lain halnya dengan keadaan Ninomiya Kazunari. Sama seperti yang lainnya, ia dengan seksama memperhatikan kertas resep yang ada di tangannya. Pelan – pelan tapi pasti ia mulai memotong satu persatu cabai, tomat, dan juga bahan – bahan lainnya dengan sangat pelan dan dengan sangat tidak penting entah kenapa ia begitu memperhatikan ketelitian pemotongannya tersebut. Ia mulai memasukkkan satu persatu bahan ke dalam cobek. Dan pelan – pelan mulai menguleknya. Sementara ia bekerja, member Arashi yang lain masih setia mendukungnya dan masih setia mengangkat baliho bergambar dirinya tinggi – tinggi.

“Hmm… garam setengah sendok teh ya. Hmm.. tambahin lebih banyak deh, pasti lebih enak,” gumam Nino dalam hati.

Dan Nino pun mulai memasukkan bumbu – bumbu tersebut dengan komposisi yang sangat berlebihan, jauh lebih banyak dari yang seharusnya tertulis di resep tersebut. Sementara yang lainnya menatapnya tak kalah ngeri.

“Hei, menurutmu enak tidak sambel buatan Nino?” tanya Ohno pada ketiga temannya yang lain.

“Entah kenapa soal rasa, feelingku buruk sekali,” kata Aiba dengan suara pelan.

Di sisi lain, Nino kembali memasang wajah berpikir dan bergumam. “Kalau cabainya ditambah dan ditambah wasabi juga, pasti rasanya lebih enak,” gumam Nino dalam hati.

Member lainnya menatapnya ngeri melihatnya menambahkan cabai lebih banyak dan lagi, wasabi. Mereka hanya bisa menelan ludah mereka dalam – dalam.

“Astaga,” kata Sho menenggak ludah.

“Aku ngga akan mau makan benda itu. Tidak akan,” kata MatsuJun pada yang lainnya.


***


Lain halnya dengan peserta terakhir yang satu ini. Sedari tadi ia tersenyum ria sambil memasak. Setidaknya ia bangga, ia bisa memasak. Walaupun sesungguhnya masakan itu adalah yang pertama kali ia masak. Dengan telaten Tamamori Yuta memotong satu persatu bahan yang ada, memasukkannya dalam cobek, kemudian pelan – pelan ia menguleknya. Sesekali ia bergerak menggambil bahan lain dengan sepatu rodanya.

“Hei, kalian yakin Tama-chan bisa menang?” tanya Fujigaya pada teman – temannya yang lain.

“Yakin sih. Tama-chan kan bisa masak,” kata Kitayama tersenyum puas.

Tiba – tiba saja, sambel yang sudah diulek oleh Tama-chan—yang entah rasanya enak atau tidak—ditambahkannya lagi satu bahan lain.

“Aku dengar kalau makanan seperti ini semakin pedas semakin enak,” katanya tersenyum.

Lantas Tama-chan langsung memasukkan berbagai bahan untuk menambah kadar kepedasan sambal tersebut. Satu kilogram cabai rawit merah, satu kilogram cabai rawit hijau, lima botol sambel *merek disensor* sambel ekstra pedas, wasabi dan satu lagi, merica satu botol.

“Err—aku jadi ragu dia bisa menang,” kata Senga kini menenggak ludahnya.

“Sama,” kata yang lain ikutan menenggak ludahnya dengan tatapan ngeri melihat Tama-chan yang memasak sambel dengan senyuman lebar di bibirnya.


***

Satu jam berlalu semenjak kompetisi pertama dimulai. Dan waktu pun sudah menunjukkan mereka semua harus menyelesaikan segala acara memasak yang ada di tempat tersebut.

“Baiklah. Waktu memasak sudah habis. Silakan kumpulkan hasil sambel terasi buatan kalian masing – masing di meja juri. Yang tidak mengumpulkan dalam waktu 10 DETIK, maka sambel buatannya tidak akan diterima lagi,” ujar Toma dengan micnya mengumumkan pada seluruh peserta kompetisi.

Lantas, pengumuman tersebut membuat mereka semua berlari – lari secepat kilat menuju meja juri dengan berbagai cara. Chinen, yang menggunakan pakaian Sailor, terpaksa harus melakukan salto demi sampai tepat pada waktunya. Inoo membuka paksa kimononya—daripada ngga bisa lari—meninggalkan boxernya, yang membuat fans – fans yang di sekitarnya sebagian menutup mata dan sebagian lagi menggilai tubuh kerempeng Inoo nan seksi tersebut. (Untuk hal ini, silakan bayangkan sama seperti ketika Inoo foto topless di majalah. Oke?). Sementara Nino yang memakai kebaya, sama seperti Inoo, memilih melepas kebayanya, meninggalkan hanya boxernya, demi sampai tepat waktu ke meja juri. Yang tersisa hanyalah teriakan fans yang bersaing dengan teriakan fans – fans Inoo. Lain halnya dengan yang menggunakan dress, mereka memilih mengangkat dress mereka tinggi – tinggi demi bisa berlari secepat yang mereka bisa ke meja juri.

Akhirnya, semuanya pun berhasil mengumpulkan sambel terasi buatan mereka masing – masing ke meja juri.

“Baiklah, berhubung semua sambel terasi sudah terkumpul, sambil menunggu hasil penilaian juri, mari kita lanjut ke kompetisi selanjutnya!” kata Toma.

“He? Masih ada lagi ya?” kata Chinen dengan nada polos.

BLETAK!

Inoo sukses memukul kepala Chinen.

“Yaiyalah! Kompetisi apaan yang cuma satu kompetisi doang! (?)” kata Inoo dengan nada serius, sementara Chinen memegangi kepalanya yang kesakitan.

“Baiklah, saya umumkan kompetisi selanjutnya. Kompetisi selanjutnya adalah…”

DAG! DIG! DUG!

Semua jantung yang ada di tempat tersebut berdebar – debar. Bukan hanya peserta, tapi juga pendukung mereka dan fans – fans mereka.

“Kompetisi kedua. Random.”

“RANDOM?!?!?!” kata semua peserta bersamaan.

“Iya. Random. Nanti akan diundi apa yang akan kalian mainkan. Kalau undiannya bilang kalian harus mainan angklung sambil nyanyi MOLA, ya kalian musti ikutin. Mengerti?” kata Toma pada ketujuh peserta. Semuanya hanya mengangguk.

“Baiklah, mari kita mulai undiannya!!” teriak Toma.

Dan undian pun dimulai. Apakah kompetisi yang akan didapatkan oleh masing – masing peserta? Nantikan kelanjutannya segera di chapter selanjutnya! Ciao!


TO BE CONTINUED

______________________________________________


ehm.
gw bilang, maaf kalo ngag lucu, maaf garing ya.
mohon komennya aja!

COMMENTS ARE LOVE. NO SILENT READER PLEASE 
Tags: author: fietha, fandom: arashi, fandom: hey!say!jump, fandom: johnnys jr (kis-my-ft2), fandom: kat-tun, fandom: news, genre: comedy, rating: g, theme: non-yaoi, type: multichapter
  • Post a new comment

    Error

    Anonymous comments are disabled in this journal

    default userpic

    Your IP address will be recorded 

  • 7 comments